Selasa, 08 Mei 2012

Penyebab Masalah Lingkungan Hidup


TRANSPORTASI
Pada masa sekarang ini, pencemaran udara di Indonesia 70%nya diakibatkan oleh emisi kendaraan bermotor, karena kendaraan bermotor memiliki zat-zat yang berbahaya bagi udara disekitar kita, antara lain adalah timbal/timah hitam (Pb), suspended particulate matter (SPM), oksida nitrogen (NOx), hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox). Kendaraan bermotor merupakan salah satu sumber pencemaran udara yang utama di daerah perkotaan. Emisi yang paling signifikan dari kendaraan bermotor ke atmosfer berdasarkan massa adalah gas karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O) yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar yang berlangsung sempurna. Pembakaran yang sempurna dapat dicapai dengan tersedianya suplai udara yang berlebih. Namun demikian, kondisi pembakaran yang sempurna dalam mesin kendaraan jarang terjadi.
Sebagian kecil dari bahan bakar dioksidasi menjadi karbon monoksida (CO). Sebagian hidrokarbon (HC) juga diemisikan dalam bentuk uap dan partikel karbon dari butiranbutiran sisa pembakaran bahan bakar. Hampir semua bahan bakar mengandung zat-zat ‘kotoran’ dengan kemungkinan pengecualian bahan bakar sel (hidrogen) dan hidrokarbon ringan seperti metana. Diantara zat-zat kotoran tersebut adalah sulfur yang dioksidasi menjadi sulfur dioksida (SO2) pada proses pembakaran, dan kadang menjadi sulfat yang dapat membantu proses nukleisasi partikel (pembentukan partikel) dalam gas buang. Zat-zat kotoran lainnya seperti vanadium dalam oli tidak dapat terbakar, atau mengandung produk pembakaran yang memiliki tekanan uap yang rendah sehingga mendorong pembentukan partikel lebih jauh. Senyawa-senyawa timbel organik (dalam bensin bertimbel) juga membentuk partikel dalam gas buang. Pada akhirnya, pada temperatur pembakaran yang tinggi, gas nitrogen (N2) di dalam atmosfer dan senyawa nitrogen yang dikandung dalam bahan bakar dioksidasi menjadi oksida nitrit (NO) dan nitrogen-dioksida (NO2).

PERTUMBUHAN PENDUDUK
Negara-negara berkembang tengah mengalami masalah yaitu bertambahnya jumlah populasi. Pertumbuhan penduduk yang besar kurang bisa diatasi dengan fasilitas yang memadai. Seperti ada kesenjangan antara pertumbuhan penduduk dengan kemampuan untuk menyediakan fasilitas seperti perumahan pelayanan kesehatan, pendidikan, pangan dan sebagainya. Bukan perkara yang mudah untuk mempersiapkan segala sesuatu akibat melonjaknya pertumbuhan penduduk. Jika suatu instansi tidak bisa mempersiapakan berbagai macam fasilitas dengn melonjaknya pertumbuhan penduduk maka yang terjadi yaitu survival fot the fittest atau dalam bahasa Indonesia yang berarti yaitu yang kuat dialah yang menang, hal tersebut seperti hokum rimba dimana penghuni suatu rimba yang bertarung untuk mempertahankan hidup dengan sumberdaya yang tidak bertambah. Jika bertambahnya penduduk tidak diatasi dengn bertambahnya fasilitas untuk umum maka yang terjai adalah sebuah peperangan untuk mendapatkan sumberdaya. Dengan bertambahnya populasi menyebabkan pemakaian sumberdaya yang semakin meningkat. Bisa di ibaratkan seperti jika satu piring nasi dimakan oleh satu orang maka akan cepat kenyang. Dan jika satu buah piring nasi di makan oleh dua orang maka kekenyangannya akan semakin berkurang. Dan begitu jika satu bauh piring nasi jika untuk tiga, empat, lima dan seterusnya maka kekenyangan yang dirasakan akan semakin berkurang. Sumberdaya yang terbatas tidak dapat menampung dari semua keinginan yang terus bertambah. Untuk contoh yang konkrit Saya mengambil dari perambaan hutan yang semakin hari semakin meningkat. Di pulau Kalimantan kasus perambaan hutan sudah parah. Karena untuk alasan tempat tinggal hutan yang jumlahnya tidak pernah bertambah kini harus menjadi korban dari sifat tamak manusia untuk dijadikan sebagai tempat tinggal maupun untuk berkebun. Dengan meningkatnya kerusakan hutan di Indonesia yang setiap detiknya mencapai satu buah lapangan sepakbola menjadi ancaman untuk kelestarian alam. Padahal fungsi hutan yang begitu banyak tidak bisa digantikan oleh yang lain.
INDUSTRIALISASI
 Industrialisasi dalam sebuah Negara yang sedang membangun seperti sebuah kewajiban yang tidak bisa diabaikan. Banyak Negara percaya bahwa dengan industrialisasi mereka mampu untuk mengangkat harkat dan martabat dari Negara lain yang telah lebih dulu memilih industrialisasi sebagai model pembangunannya. Memang tidak salah pada saat suatu Negara ingin menyejahterahkan rakyatnya segala macam cara ditempuh agar rakyatnya menjadi sentosa dan bahagia. Namun mereka juga harus menyadari bahwa industrialisasi tidak selalu membawa manfaat kepada seluruh warga suatu Negara. Ada hal-hal dimana suatu industri bisa dikategorikan membahayakan. Industri tersebut adalah industri yang banyak menghasilkan limbah berbahaya baik itu yang lewat air, tanah maupun udara. Manusia memiliki sifat untuk menyempurnakan penemuan yang terdahulu. Seperti para ahli yang selalu mengadakan penelitian untuk menyempurnakan apa yang telah ada agar lebih bermanfaat dan mampu untuk meminimalisir dari dampak negative dari sebuah teknologi. Jika kita berfikir bahww teknologi itu tidak netral kadang bisa bersifat positif dan kadang juga bisa berdampak negative bagi umat manusia. Namun begitu teknologi selalu memunculkan sikap negatifnya dimana penggunaan barang berteknologi tinggi selalu akan memunculkan sifat negatifnya. Jika kita melihat ke berbagai industri maka akan bisa kita pandangi bahwa yang paling nyata adalah produksi asap yang banyak mengandung co2 dan belum lagi bahan-bahan lain baik itu yang berupa cair maupun padat dan hal itu akan ada selama industri masih berjalan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar